Pirates of the Caribbean: Dead Men Tell No Tales

Dead Men Tell No Tales

 

Sempat dinantikan karena cukup lama rumah film produksi desney untuk memproduksi kelanjutan dari Pirates Of The Caribbean 4, Dan akhirnya Disney merilis kelanjutan dari film ini yang berjudul Pirates Of The Caribbean : Dead Man Tell No Tales.

Sekuel ini merupakan kelanjutan dari seri At World’s End yang berakhir dengan pertemuan William Turner dengan istri dan anaknya, Henry Turner. Seperti yang sudah diperlihatkan di trailer-trailer sebelumnya, akhirnya Henry telah bertumbuh dewasa dan menjadi seorang pelaut.

Naas, kapal yang ditumpanginya memasuki sebuah perairan berbahaya yang dijuluki Segitiga Iblis. Di sana, Armando Salazar beserta anak buahnya melakukan serangan kejutan dan menghabisi semua prajurit dengan mudah.

Kemudian Salazar menuruni tangga dan menemukan selebaran buronan Jack Sparrow. Setelah mengetahui bahwa Henry mengenal Jack, Salazar pun menitipkan pesan dan pergi begitu saja. Setelah berhasil lolos dari maut, Henry pun berkelana melacak keberadaan Jack Sparrow dan Trisula Poseidon, satu-satunya harapan untuk mengalahkan Salazar.

Bisa dibilang, seri kali ini kembali memakai formula lama, aksi-aksi para bajak laut yang mengundang decak kagum namun tak jarang mengundang gelak tawa. Banyaknya kejadian-kejadian konyol di sepanjang awal cerita sukses membuat para penonton terbahak-bahak.

Nilai komedi Dead Men Tell No Tales juga semakin meningkat ketika para figuran lama kembali hadir, di antaranya yang paling ikonik adalah Jack si Monyet, si kerdil Marty, dua prajurit Mulroy-Murtogg dan tak ketinggalan, Scrum, mantan kru Blackbeard. Celotehan khas bajak laut yang kadang bermakna vulgar namun dalam dosis aman kerap menghiasi dialog-dialog di antara mereka.

Dan seperti biasa, seri PoTC memakai adegan stunt yang menggunakan basis keberuntungan Jack Sparrow sebagai plot armor. Walaupun banyak adegan yang terasa serba kebetulan, namun hal ini tidak mempengaruhi kekocakan film dan bahkan tetap mempertahankan ciri khas PoTC.

Meski tingkat kekerasan film ini masih dalam taraf aman, namun penulis sedikit memperingatkan ada scene yang melibatkan properti anggota tubuh manusia yang termutilasi meski hanya berlangsung beberapa detik.

Dan hal terakhir yang patut disoroti adalah tentang kurangnya pendalaman hubungan antar tokoh, khususnya ayah dan anak seperti Will dan Henry. Ada beberapa hal yang memang terasa janggal karena belum banyak penjelasan baik secara tersirat maupun tersurat mengenai alasan setiap tokoh bertindak, termasuk kenapa Barbossa bisa berubah menjadi pribadi yang berbeda jauh dari bayangan kita selama ini.

Penasaran bukan bagaimana alur cerita yang di suguhkan oleh Disnay kali ini, langsung telusuru dan tengok bagaimana kisah dari cerita ini. Yang jelas akan sangat menarik dan membuat kalian merasakan ketegangan dan keseruan dari film ini.

Author: jordan smith

Jordan memulai hasratnya untuk menulis sebagai penggemar olahraga. Anda akan melihatnya meliput beberapa liga bola basket selalu mencari cerita yang bagus untuk diceritakan. Dari waktu ke waktu, ia juga membenamkan diri dalam penulisan untuk olahraga lain seperti MMA dan Sepak Bola.